Widget edited by Blog Mas Hanif

Teks Berjalan

...< TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGUN ANDA, SEMOGA ADA KEBERKAHAN DARI BACAAN INI...AAMIIN ALLAHUMMA AAMIIN ...>

6 Apr 2013

Kewajiban Muslim, Bersabar dan Saling Menasehati dalam Perkara yang Haq

Oleh: Haitan Rahman

Dear all,
Kalau kita terbiasa untuk saling berkomentar dalam satu perkara, dari kerangka yang berbeda, dimana yang satu menilai dari apa yang “dilihat” dan yang satu menilai dari apa yang “dirasakan dan diterjuni”, dan jika terus ’saling-berkomentar’ ini terbangun di kalangan ummat Islam; maka tidak pernah wujud apa yang disebutkan dalam ayat al-quran “saling menasehati dalam al-Haq dan saling menasehati dalam kesabaran”.

Tentunya bagi yang kaum muslimin muslim dari apa yang ‘dilihat’ saja, sebaiknya untuk lebih mengetahui lebih baik, dan kalau ada kekurangannya dari apa yang ‘diliha’ maka sebaiknya terjun dan berikan nasehat secara baik dan hikmah. Tidaklah mungkin menasehati apa yang ‘dilihat’ itu disampaikan dalam forum ini, TETAPI sebaiknya menyampaikan pada orang yang terdapat kekeliruan atau kekhilafan dari yang bersangkutan. Bukankah kita sering membaca al-quran dan as-sunnah?

Tentunya bagi kaum muslimin yang menilai dari apa yang “dirasakan dan diterjuni”, tidaklah perlu gusar dan berkecil hati. Dan jika ada sebagian yang mengikuti dari apa yang ‘dirasakan dan diterjuni’ mempunyai kekurangan dan kekhilafan, maka berilah nasehat dengan baik dan hikmah. Jangan lupa apa yang tidak dilakukan Nabi Muhammad SAW, bukan berati Rasulullah SAW melarang para Shahabat RA yang melakukannya. Sehingga inilah kadangkala menimbulkan pandangan berbeda dari kalangan para Ulama sendiri, misalkan saja ‘perihal biji tasbih’. Jangan karena kita menganggap sebagai ‘bid’ah’ daripada pandangan kita, selanjutnya asal-asalan menyampaikan dengan tidak jelas, yang akhirnya akan merusaka da’wah itu sendiri.

Saat ini kelemahan ummat Islam bertambah banyak, salah satunya dikarenakan saling bantah-membantah. Orang yang memberikan pandangan kepada kaum muslimin, tetapi yang dinilai penilaian tidak mau begitu saja menerima pandangan sepihak. Akhirnya kita menumbuhkan satu karakter jelek dan buruk di sisi agama kita yang mulia yaitu “saling bantah-membantah”.

Bagi kaum muslimin yang berkeinginan memberikan pandangan ataupun nasehat kepada kaum muslimin yang telah menerjuni usaha da’wah, maka sebaiknya sampaikan dengan cara baik dan hikmah. Tahdzir yang tidak hikmah akan menghasilkan hal-hal yang tidak baik pula. Itulah yang banyak dibahas dan dijelaskan oleh kalangan Ulama sendiri, dan bahkan telah dikompilasi dari orang yang banyak mendalami perihal ‘tahdzir’ ini dikarenakan banyak kalangan yang mengaku manhaj salafush sholeh ini akhirnya kontra-produktif dan tidak-harmonis. Atau boleh dikatakan sangat bertentangan dengan manhaj salafush sholeh sendiri.

Silahkan semua kaum muslimin belajar dari Al-quran dan as-sunnah, dan ungkap dengan baik kedua hal itu yang telah banyak dituliskan para Ulama. Bagi kalangan ahli usaha da’wah mereka mengenali ini, cobalah buka seluruh buku di bawah ini:

  1. Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf Rah
  2. Kitab fadhilah amal termasuk hikayat kehidupan para Shahabat, Maulana Dzakaria Rah
  3. Al-muntakhabah Al-hadist, Maulana Yusuf Rah
  4. Malfudhat Maulana Ilyas Rah, Maulana Manzoor Noomani Rah
  5. Riyadhush sholihin, Imam Nawawi Rah
  6. Al-adzkar, Imam Nawawi Rah
  7. Six Point of Tabligh, Maulana Isyaq Ilahi Rah

Baca dengan baik dan pejalari dengan baik, dan sesudahnya berilah seluruh pandangan-pandangan yang hari ini banyak disampaikan terhadap usaha da’wah ini berdasarkan kitab-kitab itu dengan baik. Insya Allah, kita akan banyak mendapatkan manfaat dengan baik. Terutama dengan kitab Imam Nawawi Rah, kita akan merasakan seluruh aktifitas dalam usaha da’wah itu sebagai bentuk latihan-latihan para sholihin. Itulah sangat tepat dengan nama kitabnya, “Riyadhush Sholihin’.

“Sholihin” merupakan salah satu dari empat tipe yang dinyatakan oleh Allah swt sebagai kawan yang terbaik yang telah diberi Ni’mat “Para Nabi, shidiqin, syuhada, dan Sholihin”. Inilah yang kita sering minta kepada Allah swt, minimal 17 kali. Oleh karena itu, hari ini kita belajar melalui usaha da’wah untuk latihan-latihan dari amal-amal para Sholihin (Riyadhush Sholihin), maka kita harus bersyukur kepada Allah swt. Dan sebagai rasa syukur kita kepada Allah swt, maka kita harus berusaha terus dalam usaha da’wah ini sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Dan juga kita jangan lupa bahwa “sholihin” ini yang disampaikan Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad SAW ketika dialog dengan Allah swt ketika Isra’ Miraj, dan dialog ini terekam dengan baik dalam bacaan tasyahud Sholat kita. Jadi sudah sepantas kita bersyukur dengan ada sarana latihan melalui usaha da’wah agar kita menjadi bagian dari orang-orang sholihin.

Dan kita tidak perlu lagi saling bantah-membantah lagi dari ‘yang dilihat saja’ dengan ‘yang dirasakan dan diterjuni’, tinggalkan semua itu. Lebih baik memberikan pandangan sesuai sumber-sumber kitab itu dengan baik, sehingga kita akan mendapatkan manfaat bagi kita dan orang yang sedang berdiskusi dengan kita.

sumber : Usaha Dakwah
Posting Komentar