Widget edited by Blog Mas Hanif

Teks Berjalan

...< TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGUN ANDA, SEMOGA ADA KEBERKAHAN DARI BACAAN INI...AAMIIN ALLAHUMMA AAMIIN ...>

25 Mar 2013

Hidup dalam Dakwah, Dakwah sampai Mati, Mati dalam Dakwah dan Jadikan Dakwah sebagai Usaha Terbaik


Dari Aqil bin Abi Tholib, ia bercerita. Abu Tholib berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai keponakanku! Demi Alloh, seperti yang telah engkau ketahui sendiri bahwa aku selalu membenarkan perkataanmu, karena itu engkau juga harus mengikuti perkataanku, bahwa orang-orang dari kaummu datang kepadaku dan mereka berkata bahwa engkau datang ke Ka’bah dan datang ke majelis mereka, lalu mengatakan begini dan begitu. Dengan perkataanmu itu mereka merasa tersinggung, Oleh karena itu, suapaya dapat kamu pahami, maka tinggalkanlah apa yang kamu lakukan itu." Lalu Rasulullah saw menengadahkan wajahnya ke langit sambil berkata, “Demi Alloh, aku tidak sanggup jika harus meninggalkan pekerjaan yang karenanya aku diutus, melebihi ketidaksanggupan salah seorang diantara kamu untuk membawa kobaran api matahari”. 
(HR. Thabrani dan Bukhori)

Menurut riwayat Baihaqi, bahwa Abu Tholib berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai keponakanku, orang-orang dari kaummu datang kepadaku dan mengatakan ini dan itu, Karena itu, sekarang sayangilah jiwaku juga jiwamu, dan jangan memberikan kepadaku sesuatu yang tidak sanggup aku memikulnya, begitu juga engkau. Karena itu berhentilah dari berkata-kata kepada mereka sesuatu yang tidak mereka sukai!” Mendengar perkataan pamannya ini, Rasulullah saw., merasa sedih, karena beliau menganggap bahwa pandangan pamannya mengenai dirinya telah berubah dan dia meninggalkan beliau serta menyerahkannya kepada kaumnya, dan kini dia tidak lagi memberikan semangat kepada beliau. Melihat keadaan seperti ini maka beliau bersabda, “Wahai pamanku, apabila matahari diletakkan di tangan kanaku dan bulan di tangan kiriku, niscaya sekali-kali aku tidak akan meninggalkan pekerjaan itu (Dakwah) dan aku akan tetap mengerjakannya sampai Allah Ta'Ala memberikan kemenangan kepadaku atau jiwaku melayang karenanya.” Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW., tidak kuasa lagi menahan air mata dan beliau menangis.

Dari miswar bin Makhramah rhuma, dia menceritakan “Pada suatu hari Rasulullah SAW keluar menemui para shahabat rhum, lalu bersabda, “Sesungguhnya Alloh telah mengutusku sebagai rahmat bagi sekalian umat manusia, oleh karena itu hendaklah kalian menyampaikan apa-apa yang telah kalian dengar dariku—Semoga Alloh SWT merahmati kalian—dan janganlah kalian menentang seperti penentangan kaum Hawariyyin terhadap nabi Isa as. Karena sesungguhnya Isa bin maryam as telah mengajak kaumnya kepada suatu tugas yang sama seperti yang aku tugaskan kepada kalian. Adapun orang yang diutus oleh Isa as ke tempat yang jauh, maka ia merasa keberatan sehingga Isa as mengadukan keberatan mereka itu kepada Alloh SWT  Akhirnya, setiap kaum Hawariyyin diberi tugas oleh Alloh SWT untuk berdakwah kepada kaumnya. Lalu Isa as berkata kepada kaumnya, “Ini adalah tugas yang telah diputuskan oleh Alloh kepada kalian, karena itu laksanakanlah tugas itu.!” Setelah para shohabat rhum mendengar kisah itu , mereka berkata kepada Rasululllah SAW, “Wahai Rasulullah, kami telah mendengar perintahmu dan kami siap melaksanakkannya, utuslah kami kemana pun engkau suka!” Maka rasulullah saw mengutus Abdullah bin hudzafah rhu kepada kisra raja Persia, Salith bin amr rhu kepada Haudzah bin Ali penguasa Yamamah, ‘Alaa bin al Hadhrami rhu kepada Mundzir bin Sawa penguasa Hajar, Amar bin ‘Ash rhu kepada Jaifar dan Abbad dua orang putera Julanda dan keduanya sebagai raja Oman, Dihyah al Kalbi rhu kepada Kaisar Romawi, Syuja bin Wahab al Asadi rhu kepada Mundzir bin Haris bin Abi Syimr al Ghassani, dan Amar bin Umayah ad-Dhamri rhu kepada Raja Najasyi. Para utusan tersebut dapat kembali semuanya ke Madinah sebelum Rasulullah saw wafat, kecuali ‘Alaa bin al Hadhrami rhu, karena ketika Rasulullah saw wafat dia sedang berada di Bahrain (HR thabrani. Menurut al Haitsami, dalam sanad ini terdapat Muhammad bin ismail bin bin ‘ayyasy dan dia adalah dhaif. Demikian disebutkan dalam kitab al Majma’ jilid V halaman 306)

Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari jilid VIII halaman 89, Para perawi hadits tentang sirah nabawiyah menambahkan, bahwa Muhajir bin Ali Umayah rhu diutus kepada Harits bin abdi kulal, Jarir rhu diutus kepada Dzil kala’, Saib rhu diutus kepada Musailamah, dan Hathib bin Abi Balta’ah rhu diutus kepada Muqauqis.
Posting Komentar