Widget edited by Blog Mas Hanif

Teks Berjalan

...< TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGUN ANDA, SEMOGA ADA KEBERKAHAN DARI BACAAN INI...AAMIIN ALLAHUMMA AAMIIN ...>
Tampilkan postingan dengan label istri solehah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label istri solehah. Tampilkan semua postingan

29 Mar 2013

DEMI KEJAYAAN ISLAM, WANITA TUA ITU TURUN KE MEDAN JIHAD DI JALALABAD



Kisah-kisah para pejuang Islam senantiasa menggetarkan hati-hati kita karena keberanian, keteguhan, dan pengorbanan mereka untuk Allah dalam Jihad Fi sabilillah.

Kisah ini adalah kisahnya nyata tentang seorang Muslimah Arab, seorang ibu, yang kemudian menjadi seorang Mujahidah hebat di Afghanistan demi membela Agama Allah ketika Uni Soviet (Rusia) menjajah tanah Khurasan (Afghanistan).

Kisah ini diceritakan dalam bahasa Arab oleh puteranya (yang juga seorang Mujahid), barangkali banyak orang telah membaca membaca kisah ini, tetapi semangat mengharukan dari kisah Mujahidah ini tetap hidup, semoga kita dapat menjadikannya sebagai tauladan, berikut terjemahan kisahnya:
***
Tinggal di Makkah, rumahku sangat dekat ke Baitullah. Sangat dekat sehingga kami dapat mendengar Adzan amat jelas. Aku terinpirasi oleh Barat dan jatuh menjadi korban propaganda mereka. Layaknya orang-orang Arab lainnya (orang Arab yang terjebak dalam kelalaian -red), aku tetap tuli terhadap tangisan manusia yang tertindas.

Aku mengagumi gaya orang kafir Barat. Setelah menyelesaikan pendidikanku, aku mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan penerbangan dan aku memutuskan untuk tinggal di London. Setelah beberapa waktu, aku kembali untuk menikah. Aku sibuk dalam mempersiapkan pernikahan pada saat temanku memberitahuku bahwa pertempuran antara Islam dan Kufur telah dimulai di Afghanistan dan Soviet telah datang dengan semua kekuatan mereka untuk memadamkan cahaya Allah. Soviet membunuh dan merampok. Pada saat itu telah datang bagi kaum Muslimin untuk bersatu dan memerangi kekuatan kafir ini dan bersiap untuk Jihad fi Sabilillah.

Aku terkejut mendengar kata-katanya. Aku telah buta dengan kemewahan dan pertempuran melawan orang-orang kafir bertentangan dengan pikiranku secara total. Bangsa yang telah menunjukkan kepada kita jalan kemajuan mengapa kita harus memeranginya? Aku mengatakan kepada teman Mujahid ku, mungkin kau telah marah?. Aku kembali ke rumah dan mengatakan berita ini kepada ibuku.

Saat aku menceritakan kepadanya, aku memandang wajahnya. Aku terkejut melihat ia menangis. Aku bertanya kepadanya mengapa ia menangis. Ia mengatakan kepadaku dengan sedih:

”Demi Allah, bawa aku ke Afghanistan, aku ingin menjadi Syahidah di jalan Allah. Kalimat ibuku itu seperti petir menyambarku.” Aku merasakan kemuakan yang kuat dalam diriku sendiri. Wajah-wajah para ibu yang begitu banyak yang telah menjadi korban penindasan oleh orang-orang kafir karena kelalaianku mulai terbayang-bayang di mataku. Aku dapat melihat tangan-tangan lemah mereka di dekat leherku. “Bawa aku ke Afghanistan” suara ibuku mengjejutkanku kembali. Aku berkata kepada ibuku tercinta “Ibu sayang, kau tidak perlu pergi ke sana, aku siap berkorban atas namamu.”

Ia menjawab dengan tegas, “Aku ingin melibatkan diriku sendiri.”

Aku mendapati diriku tak berdaya di hadapan ketegasannya. Kemudian kami memutuskan bahwa aku yang akan pergi ke sana pertama dan mengatur tempat untuk tinggal dan hal-hal lainnya dan kemudian kembali membawa ibuku. Ibuku sangat setuju.

Setelah sampai Pakistan, aku mengatur sebuah tempat untuk tinggal dan kembali untuk membawa ibuku bersamaku ke Peshawar. Aku menemukannya berada di rumah sakit dan menurut para dokter, ia berada di tahap akhir hidupnya. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku telah datang untuk membawamu untuk Afghanistan. Mendengar ini, arus listrik langsung mengalir di tubuhnya dan semua sakit itu menghilang.

Hari berikutnya, aku terkejut melihat bahwa ibuku yang hebat menjual semua properti dan perhiasannya untuk menginfakkannya kepada Mujahidin. Aku meninggalkan saudara-saudaraku menangis dan pergi bersama ibuku ke Peshawar.

Saat tiba di Peshawar, ia pun semakin resah untuk mencapai front (medan tempur). Ketika aku meminta Amir untuk mengizinkan ibuku untuk berpartisipasi, ia (Amir) memutuskan untuk berbicara sendiri kepada ibuku. Melihat Amir, ibuku menjadi sangat-sangat gembira dan menyerahkan semua uang kepadanya. Amir mengatakan kepada ibuku bahwa itu cukup darinya dan pergi ke front tidak sesuai untuknya. Ia (ibu) tidak berani menentang Amir tetapi ia menjadi amat sedih. Sehingga ia pergi dan aku tetap tinggal dengan niat tetap di front selama sisa hidupku.

Hanya dalam waktu singkat berlalu, aku diberitahu bahwa ibuku sangat sakit dan menangis setiap saat karena kecintaan terhadap kesyahidan dan bahwa ia mencapai Islamabad pada tanggal sekian dan sekian. Aku pergi ke Islamabad. Keadaan emosional ibuku telah menyeretku ke dalam kegelisahan. Ia berkata kepadaku bahwa saat ini ia datang untuk berkorban untuk kejayaan Islam dan tidak ada niat untuk kembali. Aku membawa ibuku itu ke front Jalalabad. Ibuku sangat bahagia sehingga air matanya tidak berhenti. Pada hari itu orang kafir pasti bergetar. Tangan-tangan lemah dari wanita tua ini Nampak begitu kuat.

Kami tiba di front Jalalabad (salah satu kota di Afghanistan -red). Semua Mujahidin muda mulai meneriakkan slogan-slogan antusias karena melihat seorang wanita tua berperang demi kejayaan Islam. Beberapa momen tidak akan pernah dapat dilupakan. Mereka menjadi bagian dari sejarah era muslim.

Ibuku baru saja tiba di front ketika musuh-musuh Islam mulai menembakkan mortir-mortir untuk memadamkan cahaya Islam. Mereka yang mengambil bagian dalam Jihad mengetahui bagaimana bahagianya momen seperti itu bagi seorang Mujahid. Jadi, Mujahidin membawa ibuku yang tua untuk melawan yang disebut “Super Power”.

Ia meneriakkan Bissmillah dan Allahu Akbar untuk menempatkan mortir di meriam dengan ucapan Takbir, ia akan menembakkannya kepada musuh. Lima jam ini bagaikan bencana bagi orang-orang kafir. Seperti biasa, pesawat-pesawat Rusia membalas dengan membom daerah itu dengan pesawat-pesawat mereka. Oleh karena itu, semua Mujahidin meninggalkan bunker mereka, tetapi wanita Mujahidah ini tetap berdiri di tengah medan pertempuran. Ia mengangkat tangannya untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’la, “Ya Allah, karuniakan aku kesyahidan.”

Dalam waktu yang salama ia berdiri di sana berdo’a untuk memohon kesyahidan. Kemudian ia berdo’a seperti ini, “Ya Allah, jika engkau tidak menuliskan kesyahidan dalam takdirku maka berikan aku sebuah luka di jalanMu. Aku tidak ingin bertemu dengan-Mu tanpa bekas apapun dari Jihad di hari Kiamat.”

Do’anya dijawab, dan wanita hebat ini mendapatkan hadiah cedera di jalan Allah, ia kembali ke rumahnya dengan sangat bahagia.

***
Diterjemahkan dari versi Inggris yang diterbitkan AMEF, “A Great Lady in the Battle of Jalalabad”-arrahmah

26 Mar 2013

8 KALIMAT BERIKUT, SEBAIKNYA TIDAK BOLEH DIUCAPKAN PADA ANAK-ANAK


Orang tua memiliki peran yang sangat penting dan utama dalam membentuk karakter dan perilaku anak. Ketelitian dan kehati-hatian dalam menjaga sikap dan perilaku juga harus diperhitungkan oleh orang tua, karena orang tua adalah inspirasi bagi anak. Anak sering meniru apa yang dilakukan oleh orang tua, bukan hanya sikap namun ucapan pun sangat penting dijaga, jangan sampai melukai hati anak atau membuat mereka salah pengertian dengan apa yang orang tua ucapkan. 

Anak-anak mungkin sering membuat banyak masalah, akan tetapi sebagai orangtua tak sepatutnya Anda melontarkan kata-kata yang menyakitkan bagi anak. Efek dari ucapan kasar tersebut sering kali lebih merugikan daripada yang Anda bayangkan. Berikut adalah 8  kalimat yang tidak boleh diucapkan orang tua pada anaknya.:
  1. "Kalau tidak nurut, Ibu tinggal kamu di sini." Anda mengancam dan menakuti anak-anak dengan harapan agar mereka patuh pada perintah Anda. Perlu Anda ketahui, ketakutan terbesar anak-anak kecil adalah tersesat sendirian dan merasa tidak aman. Oleh karena itu, tindakan Anda meninggalkannya sendirian akan menimbulkan trauma bagi dirinya.
  2. Alih-alih mengancam dan menakuti anak, lebih baik katakan keinginan Anda dengan baik. Misalnya ketika anak merengek minta mainan, katakan saja padanya, "Sayang, kalau kamu terus merengek seperti itu, kita akan pulang sekarang. Tapi kalau kamu tidak nakal, kita akan tetap di toko ini dan memilih belanjaan bersama."Alternatif lainnya adalah dengan beristirahat sejenak. Kenakalan anak dan kemarahan Anda mungkin saja merupakan tanda bahwa Anda atau anak butuh istirahat.
  3. "Kamu seharusnya malu." Sering orangtua beranggapan bahwa dengan mengungkapkan hal tersebut, anak akan malu dan akan mengubah sikapnya sesuai dengan yang mereka inginkan. Namun, anak kecil belum dapat memahami rasa malu yang terjadi akibat kesalahan yang diperbuatnya. Oleh karena itu, hal ini belum tentu langsung berhasil. Jika terlalu sering mengatakan hal ini, maka mereka hanya akan berpikir bahwa segala sesuatu yang dilakukannya selalu salah. 
  4. "Seandainya kamu tidak pernah ada." Kalimat ini punya makna: "Ayah dan ibu tidak pernah menginginkanmu." Karenanya, kalimat ini tidak sepantasnya diucapkan oleh orangtua. Kalimat ini akan sangat menyakitkan, baik bagi si anak maupun orang lain yang mendengarnya. Terlepas dari kenakalan yang telah dilakukan anak, ia hadir karena kehendak anda dan pasangan anda. Maka, bersikaplah sebagai orangtua yang bertanggung jawab dengan mengasuh dan mendidik anak dengan baik, bukannya menyalahkannya karena lahir di dunia. 
  5. "Kamu yang membuat Ibu bercerai." Tidak ada anak yang menjadi penyebab orangtuanya bercerai. Ketika kalimat ini diucapkan, maka secara tak langsung Anda membuat anak-anak menanggung beban emosional seumur hidupnya. Bahkan ketika Anda menjelaskan dengan penuh kehati-hatian tentang perceraian, anak-anak akan merasa sangat bertanggung jawab atas keputusan Anda untuk bercerai. Anak akan beranggapan bahwa jika dia bersikap lebih baik, maka Anda tidak akan bercerai. Meski tak terucapkan oleh anak, masalah ini sering jadi masalah yang serius. 
  6. "Kenapa kamu tidak seperti saudaramu yang lain?" Jangan pernah membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya, hal ini dapat merendahkan hati mereka karena secara tidak langsung anda mencap bahwa dia tidak cukup pintar, cukup baik, ataupun cepat belajar dibanding saudaranya. Pembanding ini juga akan meningkatkan persaingan antarsaudara meningkat, yang kelak akan merusak hubungan persaudaraan dan mengembangkan keterpisahan. Terima setiap anak dalam keluarga Anda karena mereka memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri. Bantu anak untuk melihat keistimewaan mereka dengan berfokus pada masing-masing individu tanpa menggunakan perbandingan. 
  7. "Biar Ibu/Ayah yang menyelesaikan." Biasakan anak untuk melakukan dan menyelesaikan pekerjaannya sendiri karena jika anda terlalu sering mengambil alih apa yang seharusnya dikerjakannya sendiri ini dapat melemahkannya.Mengambil alih pekerjaan anak mungkin bisa menghemat waktu Anda di masa sekarang, tetapi Anda meninggalkan beban di masa depan karena anak jadi tak terbiasa mandiri. 
  8. "Ibu/Ayah bilang begitu, ikuti saja." Kalimat ini memang terdengar seperti perintah keras bagi anak. Namun, arti yang terdalam dari kalimat ini adalah, "Saya orang dewasa, dan kamu anak-anak", atau "Saya pintar, dan kamu bodoh", atau "Saya berkuasa, dan kamu tidak", atau "Saya yang mengatur, dan kamu yang harus mengerjakan." 
Penegasan-penegasan di atas akan menciptakan jurang yang lebar antara Anda dan anak. Gaya bicara seperti ini menimbulkan rasa kesal pada anak, bahkan mungkin rasa benci dan persaingan untuk berebut kekuasaan dalam rumah. Cobalah untuk menggunakan bahasa yang lebih baik untuk mengungkapkan ketidaksetujuan anak sehingga mereka lebih menghormati dan mengerti apa yang Anda rasakan.

Peran orang tua yang sangat penting dalam kehidupan anak inilah yang harus diperhatikan agar orang tua lebih bersikap bijak dalam menghadapi setiap perilaku anak. Jangan sampai ucapan yang salah membuat anak jadi lebih bersikap salah. 7 kalimat yang tidak boleh diucapkan pada anak ini hanya sebagian contoh saja dari ucapan-ucapan orang tua yang perlu diperhatikan agar jangan sampai terucap hingga melukai hati mereka.

21 Mar 2013

ISTRI SHOLEHAH YANG MENGGAIRAHKAN



Abu Thalhah adalah salah seorang sahabat Nabi yang amat beruntung karena kehidupan keluarganya yang sakinah. Isterinya yang bernama Rumaisah atau lebih dikenal dengan Ummu Sulaim bukan hanya cantik dan menggairahkan, tapi juga shalehah dan cerdas. dikaruniai seorang anak dari Allah swt melengkapi kebahagiaan keluarga ini. 

Namun demikian, selalu kumpul di rumah untuk selalu menikmati kebahagiaan tidaklah mungkin. Seorang suami harus keluar dari rumah untuk mencari nafkah yang juga menjadi tanggungjawab dan bukti cintanya kepada keluarga. Bahkan dalam situasi yang mendesak ia tetap harus lakukan hal itu. 

Suatu ketika anak semata wayang yang mereka cintai jatuh sakit, sementara Abu Thalhah harus keluar rumah untuk mencari nafkah dan bila tidak keluar rumah, ia tidak mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Karenanya, meskipun terasa berat ia tetap pergi untuk melaksanakan kewajibannya itu. 

Ketika sore hari, anaknya yang sakit akhirnya meninggal dunia. Duka amat dalam dirasakan oleh Rumaisah, iapun mengucurkan air mata sampai terasa sudah habis bersama kesedihannya yang juga demikian. Hari sudah mendekati malam yang berarti suaminya segera pulang, IA TIDAK INGIN SUAMINYA PULANG YANG DALAM KEADAAN LELAH HARUS BERHADAPAN DENGAN KESEDIHAN YANG DALAM DAN TIDAK MENYENANGKAN. 

Untuk menyambut suaminya pulang, Ummu Sulaim memindahkan jenazah anak yang dicintainya itu ke kamar khusus, iapun menutupi wajahnya yang sedih dengan sedikit bersolek dan siap menyambut kepulangan suaminya malam itu dengan wajah gembira seperti tidak ada masalah. 

Kepulangan Abu Thalhah betul-betul disambut dengan gembira, saat ia bertanya tentang keadaan anaknya, iapun menjawab bahwa sang anak sedang beristirahat, bahkan lebih tenang dari biasanya. Abu Thalhah tentu merasa bersyukur. Makan malam yang lezat sudah dihidangkan oleh isteri yang amat dicintainya, bahkan sesudah makan malam selesai, sang isteri dengan wajahnya yang bersinar, bahkan nampak lebih cantik dari biasanya mengajaknya bercengkrama dengannya sehingga Abu Thalhah melakukan hubungan suami isteri dengan kepuasan tersendiri. 

Setelah sang suami isteri ini merengkuh kepuasan dan kebahagiaan malam itu, Rumaisah tiba-tiba bertanya kepada suaminya: “Bila ada orang menitipkan sesuatu kepada kita, sesuatu itu milik kita atau bukan, padahal kita amat menyenangi sesuatu itu?”. 

“Tentu bukan”, jawab Abu Thalhah. 

Rumaisah melanjutkan pertanyaannya: “Bila sesuatu itu diambil oleh yang punya bagaimana?”. 

“Tidak apa-apa, hak orang itu untuk mengambilnya karena memang hal itu miliknya”, jawab sang suami. 

“Bila sesuatu itu adalah anak kita, anak itu milik kita atau titipan?”. Tanya Rumaisah lagi. 

Sampai disini, Abu Thalhah merasa ada yang aneh dengan pertanyaan isterinya itu. Karenanya ia bertanya: “Apa sebenarnya maksud pertanyaanmu itu?”. 

“Kalau kita menyadari bahwa anak kita adalah titipan Allah swt, maka Allah swt telah mengambilnya, ia telah wafat menjelang maghrib tadi”, jawab Rumaisah. 

Meskipun kalimat itu diucapkan sedemikian pelan dan hati-hati, hal itu telah menggetarkan hati Abu Thalhah. Menyadari kematian sang anak yang dicintai membuatnya menjadi diam dan sedih serta termenung memikirkan kejadian hari itu.
 
BILA SANG ISTERI BERKATA APA ADANYA SEJAK KEPULANGANNYA, TIDAK MUNGKIN IA HARUS BERSENANG-SENANG DENGAN MAKAN YANG LEZAT DAN MELAKUKAN HUBUNGAN SUAMI ISTERI. 

NAMUN, IA MENJADI SEMAKIN CINTA DAN BANGGA KEPADA SANG ISTERI ATAS KECERDASAN HATI DAN PIKIRANNYA ATAS PERISTIWA INI. “ISTERIKU TERNYATA TELAH BERBUAT SESUATU YANG PATUT DITELADANI”, PIKIRNYA MESKIPUN IA HAMPIR TIDAK PERCAYA DENGAN APA YANG DIALAMINYA. 

Setelah jenazah sang anak diurus dengan baik. Abu Thalhah merenung atas kekagumannya kepada sang isteri, ia merasa sebagai seorang suami amat tertinggal dengan isterinya dalam menyikapi sesuatu. Ia ingin berusaha untuk menjadi lebih baik dari isterinya. Maka iapun datang kepada Rasulullah saw dan menceritakan peristiwa yang sesungguhnya terjadi. 

Mendengar cerita Abu Thalhah, Rasulullah saw nampak sangat antusias, wajahnya nampak begitu gembira dengan cerita tentang keadaan umatnya yang mengagumkan. Karenanya sesudah mendengar cerita itu, Rasulullah saw mendo’akan agar Allah swt memberkati malam-malam berikutnya suami isteri yang tabah itu. 

Kejadian ini menjadi cerita yang tersebar luas di Madinah, para suami isteri ingin memiliki ketabahan, kesabaran dan kesungguhan seperti Abu Thalhah dan Rumaisah ini. Harapan Rasulullah saw ternyata menjadi kenyataan. Suami isteri yang mulia ini dikarunia anak-anak yang tidak hanya satu, tapi tujuh anak yang mudah dididik dan dibina menjadi anak yang shaleh, bahkan anak-anak inipun menjadi penghafal Al-Qur’an yang mengagumkan. 

Sahabat wanita… 
tak ada satupun laki-laki yang tidak menginginkan istrinya atau calon istrinya seperti Rumaisah, CINTA seorang lelaki tak akan perpaling sedikitpun jika Istrinya atau calon istrinya seperti Rumaisah, kecuali Lelaki itu BODOH. Jadilah Rumaisah kita akan serasa tinggal di SORGA sebelum SORGA 

Kutifan dari : Media Muslim