Widget edited by Blog Mas Hanif

Teks Berjalan

...< TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGUN ANDA, SEMOGA ADA KEBERKAHAN DARI BACAAN INI...AAMIIN ALLAHUMMA AAMIIN ...>
Tampilkan postingan dengan label usaha dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label usaha dakwah. Tampilkan semua postingan

5 Sep 2016

Kargozari (Laporan) Dakwah dari Cirebon,Jawa Barat

Pak Harto dan Ustadz Tabligh

Di Cirebon ada seorang Ulama namanya KH Zamhuri, beliau pengasuh Pondok Pesantren Dar El Istiqomah, disamping ngasih ta’lim untuk santri2nya beliau juga membuka ta’lim ngaji pasaran tiap hari minggu sekira jam 2 siang, bertempat di masjid pondoknya. Kebanyakan mustami’nya 95% para Ustadz dan hanya beberapa orang saja yang bukan ustadz, jumlah mustami’nya mingguan khusus ini berkisar 150an orang. Kitab yang dikaji diantaranya kitab Ihya Ulumuddin, karya Al Imam Al Ghozali Rahmatullah alaih dan setiap mustaminya dianjurkan masing2 pegang kitab tersebut,

Pada suatu hari minggu sebelum memulai pengajian kitab Ihya, setelah muqoddimah, beliau dihadapan para mustami’nya berkata;
“Kita ini tiap minggu selalu ngaji kitab Ihya dan sudah berkali-kali khatam, akan tetapi kita ini belum bisa atau berat sekali untuk mengamalkan pesan kitab Ihya ini, sebaliknya lihatlah orang2 yang suka jaulah/jemaah tabligh itu, mereka tidak tahu kitabnya tetapi sudah bisa mengamalkan isi kitab Ihya ini, ibarat orang baca Al Qur’an mereka belum tahu tajwidnya, idhar, ikhfa, idghom, namun setelah saya dengarkan dan amati kok baca’an Al Qur’annya benar..?”

Setelah itu beliau mulai ngaji kitab Ihya, seperti biasa dalam sesi pengajian ada sesi tanya jawab, di kesempatan itu ada salah seorang mustami’nya yg tentunya dia dari kalangan ustadz, bertanya;
"Saya tanya Pak Kyai, ma’af Pak Kyai, kemarin di kampung saya kedatangan rombongan dari jemaah tabligh katanya sih mereka rombongan dakwah, tapi orangnya koq bodoh-bodoh, bagaimana itu Pak Kyai?"

Di kesempatan itu Pak KH Zamhuri lantas menjawab; 
“Justru biasanya orang bodoh itu hatinya lurus, niatnya lurus-lurus, coba dulu juga yangg menjadi Sahabat Rasulullah SAW juga umumnya orang bodoh2, ma’af  bukan menghina sahabat Sahabat, Bilal, Yasir, Ka’ab Al Arat, itu klo zaman sekarang itu buta huruf atau bodoh, kalo orang yg pintar2 ya ahli kitab yahudi, ahli kitab nasrani, abu jahal, itu orang yg ‘pintar2’, tp karena mereka tdk ikut Rasulullah mereka dilaknat Allah SWT, zaman skrg banyak orang pintar bikin kegiatan Agama tp ternyata ingin dipilih jd caleg, atau bupati,”

Kemudian ada ustadz yg lainya melanjutkan bertanya, 
“Begini Pak Kyai, mereka (pen: maksudnya jamaah gerak) sudah saya kasih kesempatan untuk datang ke musholah2 dan masjid2, akan teptapi mana masyarakat yg yang mau ikut? Ini berarti dakwah mereka ini kurang berhasil atau tidak cocok untuk diterapkan di masyarakat kita.?”

KH Zamhuri lalu menjelaska;
“Di Kitab Ihya diterangkan, nanti di zaman akhir apabila ada orang yg mencampur adukkan antara perkara yg hak & bathil, maka akan banyak pengikutnya, tp sebaliknya apabila ada
kalangan yg hanya mempertahankan perkara yg hak saja maka yg ikut hanya sedikit, atau bahkan gak ada yg ikut sama sekali, contohnya rombongan2 jaulah itu, mereka hanya mempertahankan yg hak saja, maka orang yg ikut cuma sedikit”

Semoga kisah ini menjadi inspirasi kita untk lebih semangat lagi dalam kerja mulia ini. 

Wallahu'alam

24 Mei 2013

Kaya Dengan Atau Tanpa Harta, Bisa?



بسم الله الرحمن الرحيم

Kalau pertanyaan berikut diajukan kepada kita; mau jadi orang kaya atau miskin? Tentu mayoritas atau bahkan semua orang akan menentukan pilihannya ingin jadi orang kaya. Pilihan ini wajar karena kekayaan identik dengan kebahagiaan, kecukupan dan ketenangan hidup, sementara tentu tidak ada seorangpun yang ingin hidupnya sengsara.

Akan tetapi permasalahan yang sebenarnya adalah dengan apa orang menjadi kaya sehingga dia bisa hidup tenang dan berkecukupan? Apakah dengan harta benda atau pangkat dan jabatan duniawi semata?

Jawabannya pasti: tidak, karena kenyataan di lapangan membuktikan bahwa banyak orang yang memiliki harta berlimpah dan jabatan yang tinggi tapi hidupnya jauh dari kebahagiaan dan digerogoti berbagai macam penyakit kronis yang bersumber dari hati dan pikirannya yang tidak pernah tenang.

Kalau demikian, dengan apakah seorang manusia bisa meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati?

Temukan jawaban pertanyaan di atas dalam hadits berikut ini::

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam) jiwa (hati)”(1).

Inilah jawaban dari hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang merupakan wahyu Allah Ta’ala Pencipta alam semesta beserta isinya, termasuk jiwa dan raga manusia. Dialah Yang Maha Mengetahui tentang segala keadaan manusia, tidak terkecuali sebab yang bisa menjadikan mereka meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati.

Maha benar Allah Ta’ala yang berfirman:


أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Bukankah Allah yang menciptakan (alam semesta beserta isinya) maha mengetahui (segala sesuatu)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS al-Mulk:14).

Hadits ini merupakan argumentasi kuat, ditambah bukti nyata di lapangan, yang menunjukkan bahwa kekayaan dan kecukupan dalam hati merupakan sebab kebahagiaan hidup manusia lahir dan batin, meskipun orang tersebut tidak memiliki harta yang berlimpah.

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia” (2).

Benar, kekayaan yang sejati adalah iman kepada Allah Ta’ala dan ridha terhadap segala ketentuan dan pemberian-Nya, ini akan melahirkan sifat qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezki yang diberikan Allah Ta’ala).

Inilah sifat yang akan membawa keberuntungan besar bagi hamba di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan kepadanya” (3).

Apa yang dijelaskan dalam hadits ini tidaklah mengherankan, karena arti “kaya” yang sesungguhnya adalah merasa cukup dan puas dengan apa yang dimiliki, adapun orang yang tidak pernah puas dan selalu rakus mencari tambahan, meskipun hartanya berlimpah, maka sungguh inilah kemiskinan yang sejati, karena kebutuhannya tidak pernah tercukupi.

Imam Ibnu Baththal berkata: “Makna hadits di atas: Bukanlah kekayaan yang hakiki (dirasakan) dengan banyaknya harta, karena banyak orang yang Allah jadikan hartanya berlimpah tidak merasa cukup dengan pemberian Allah tersebut, sehingga dia selalu bekerja keras untuk menambah hartanya dan dia tidak perduli dari manapun harta tersebut berasal (dari cara yang halal atau haram). Maka (dengan ini) dia seperti orang yang sangat miskin karena (sifatnya) yang sangat rakus. Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan (dalam) jiwa (hati), yaitu orang yang merasa cukup, qana’ah dan ridha dengan rezki yang Allah limpahkan kepadanya, sehingga dia tidak (terlalu) berambisi untuk menambah harta (karena dia telah merasa cukup) dan tidak ngotot mengejarnya, maka dia seperti orang kaya” (4).

Oleh karena itu, kemiskinan yang sebenarnya adalah sifat rakus dan ambisi yang berlebihan untuk menimbun harta serta tidak pernah merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala.

Padahal kalau saja seorang manusia mau berpikir dengan jernih dan merenungkan, apakah kerakusan dan ketamakannya akan menjadikan rezki yang telah Allah Ta’ala tetapkan baginya bisa bertambah dan semakin luas? Tentu saja tidak, karena segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya tidak akan berubah, bertambah atau berkurang.

Bahkan lebih dari itu, justru kerakusan dan ambisi yang berlebihan mengejar perhiasan dunia, itulah yang akan menjadikannya semakin menderita dan sengsara. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)” (5).

Kesimpulannya, orang yang paling kaya adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezki yang diberikan Allah) dan ridha dengan segala pembagian-Nya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “…Ridhalah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan)” (6).

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk semua orang yang membaca dan merenungkannya.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Referensi:
1 HSR al-Bukhari (no. 6081) dan Muslim (no. 1051).
2 HSR al-Bukhari (no. 52) dan Muslim (no. 1599).
3 HSR Muslim (no. 1054).
4 Kitab “Tuhfatul ahwadzi” (7/35).
5 HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani.
6 HR at-Tirmidzi (no. 2305) dan Ahmad (2/310), dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani.

Penulis: 

Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA.
Dari artikel:  'Muslim.Or.Id'

23 Apr 2013

Agungnya Dzikir BISMILLAH Sebagai Pembuka Cahaya Ke-Agungan Illahi


"Segala sesuatu (aktivitas yang baik) yang tidak dimulai dengan bismillah, akan terputus (nilai keberkahannya)" 
(HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dengan kata lain, kunci kebaikan dan pangkal keberkahan dalam meraih cita-cita mulia adalah membaca bismillah.

Bismillah bukan sekadar bacaan pembuka, tetapi merupakan zikir hati yang dapat memancarkan cahaya keagungan Sang Pencipta. 

Menurut Bediuzzaman Said Nursi dalam karya monumentalnya, Rasail an-Nur, Bismillah itu bacaan yang supermulia sehingga Allah SWT memilihnya sebagai bacaan pembuka bagi Kitab Suci-Nya, Alquran. Menurutnya, bismillah memiliki tiga keagungan yang indah dan perlu dimaknai oleh setiap Muslim. 

Pertama, keagungan uluhiyyah (ketuhanan). Semua makhluk bersandar, bergantung, dan memerlukan pertolongan-Nya. Menyebut "Dengan nama Allah yang Maha-Pengasih Maha-Penyayang" berarti meyakini sepenuh hati, Allah SWT adalah sumber kehidupan, poros kebajikan, tujuan pengabdian, dan muara segala nilai keberkahan. 

Bismillah memberikan motivasi dan spirit ketuhanan untuk 'menghadirkan' dan 'mengikutsertakan' Tuhan dalam kehidupan kita. Bismillah adalah gerbang menuju keikhlasan dan harapan mulia, yaitu meraih mardhatillah (ridha Allah). 

Membiasakan membaca Bismillah sama dengan belajar untuk tidak melupakan Allah. Sebab lupa kepada Allah merupakan penyakit hati yang dapat menyebabkan kefasikan dan hilangnya keberkahan hidup ini. 

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS Al-Hasyr [59]: 19). 

Kedua, keagungan rahmaniyyah (kasih). Melafalkan Bismillah merupakan doa bagi Muslim untuk memperoleh kasih-Nya yang tak terbatas. Bismillah menjadi pintu tercurahnya rahmat Allah dalam menggapai kebahagiaan hidup ini. 

"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka Aku akan tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami." (QS Al-A'raf [7]: 156). 

Ketiga, keagungan rahimiyyah (kasih sayang). Jika kasih Allah diberikan kepada semua makhluk-Nya, kasih sayang-Nya hanya diberikan kepada Muslim, terutama di akhirat kelak. 

Bismillah menumbuhkan keyakinan kasih sayang Allah itu mengatasi segalanya, sehingga hanya Allah-lah yang akan memberi ampunan dan pertolongan pada hari perhitungan (yaumul hisab) nanti.

Dengan Bismillah, Muslim diingatkan agar selalu beristighfar kepada-Nya karena Allah Mahapengampun dan Mahapenyayang. 

Keagungan Bismillah tidak hanya karena ia merupakan salah satu ayat dari surat Alfatihah, tapi juga induk Alquran itu sendiri. 

Dari Abu Hurairah ra Nabi Muhammad saw bersabda: “Jika kamu membaca Alhamdulillah, maka bacalah Bismillahirrahmanirrrahim, karena ia adalah ummul Quran (induk Alquran) dan Assab’ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang atau Alfatihah), sedangkan bismillah itu termasuk salah satu ayatnya.” (HR Addaruqutni). 

Bismillah termasuk etika (adab) spiritual untuk 'menyapa' dan mengakrabkan diri dengan Allah SWT. 

Keagungan Bismillah juga tercermin dari esensi al-Asma’ al-Husna (ar-Rahman ar-Rahim) yang terkandung di dalamnya. Bahkan dua nama dan sifat utama Allah ini sesungguhnya merupakan intisari dari al-Qur’an. 

Dalam buku Kanzul ‘Ummal fi Sunan al-Aqwal wal Af’al karya ‘Ala’uddin al-Muttaqi dinyatakan “Semua kitab suci yang pernah diturunkan oleh Allah itu (esensinya) ada dalam Alquran. 

Semua yang ada dalam Alquran itu ada dalam surat al-Fatihah. Sedangkan semua yang ada dalam al-Fatihah itu ada dalam Bismillah.” 

Oleh karena itu, kita harus selalu membaca Bismillah dalam memulai segala sesuatu yang positif agar aktivitas kita bernilai ibadah dan mendapatkan berkah. 

Kita pun harus yakin aktivitas yang didahului dengan Bismillah dapat mendatangkan kebaikan dan kemuliaan; sebaliknya tanpa Bismillah dapat menjadikan segala amal kita ada dalam kesia-siaan dan boleh jadi itu bentuk kemaksiatan.

Empat Wasiat Sayyidina Ali Bin Abi Thalib

illustrasi

Ya Bunayya, ihfaż ‘anni arba’an wa arba’an la yadurruka ma ‘amilta ma’ahunna, aghna al-ghina al’aqlu, wa akbaru al-faqru al-hamqu, wa awhasyu al-wahsyati al-‘ajabu, wa akbaru al-hasabi husnu al-khuluqi

Sayyidina Ali bin Abi Tholib, sahabat sekaligus menantu Rasulullah saw mewasiatkan empat hal kepada putranya Hasan RA untuk senantiasa diingat dan dijadikan pegangan dalam kehidupannya. 

Pertama, bahwa paling berharganya kekayaan adalah akal dan bukan harta benda ataupun yang lainnya. Karena dengan akal, manusia bisa mencapai apa yang menjadi keinginannya dan dengan akal pula manusia akan mendapatkan harta kekayaan atau bahkan kehormatan. Tanpa akal, manusia tidaklah berarti. Akal pulalah yang menjadi pembeda antara manusia dengan binatang. 

Kedua, paling besarnya kefaqiran adalah kebodohan. Kebodohan bukan saja tidak adanya kecerdasan ataupun kepintaran dalam diri seseorang, akan tetapi orang yang tidak menggunakan akalnya dengan baik dan untuk hal yang baikpun merupakan sebuah kebodohan.

Kita tahu zaman jahiliyah dahulu kala, disebut jahiliyah bukan karena masyarakatnya yang bodoh akan tetapi lebih pada orang-orang yang tidak mau mengakui kebenaran Rasulullah padahal akal mereka membenarkannya. Jadi kebodohan itu merupakan kefaqiran yang paling akut. Seseorang yang “bodoh” tidak akan dianggap berharga dalam kehidupan sosialnya.

Ketiga, paling nistanya kesendirian yaitu kesombongan. Sifat sombong dan congkak tentunya tidak disukai oleh siapapun. Oleh karenanya seseorang dengan sifat sombong tidak akan disukai dan bahkan akan dijauhi oleh orang lain.

Hal ini dikarenakan orang sombong akan sulit untuk bisa menghargai orang lain. Dia hanya bisa melihat kelebihannya sendiri tanpa menyadari kekurangan yang ada pada dirinya, dan sebaliknya dia selalu melihat kekurangan orang lain, tanpa melihat kelebihannya.

Keempat, ini disampaikan Sayyidina Ali kepada putranya bahwa hal paling besar dari kemuliaan seseorang itu terletak pada keindahan budi pekertinya. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori disebutkan bahwa Rasulullah saw diutus ke muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. 

Ini membuktikan betapa penting dan mulianya orang yang berakhlak dan berbudi baik. Masih banyak orang yang meyakini bahwa kehormatan atau kemuliaan itu bisa didapat oleh sebab kekayaan, kecerdasan dan keturunan. Mereka tidak sadar jika kekayaan ataupun kecerdasan yang tidak diimbangi dengan akhlak yang baik bisa menjadi bumerang yang akan menjatuhkan mereka ke dalam kenistaan dan kehinaan.

Maka, jika kita bisa menjaga empat hal tersebut dia tas, insyaallah kehidupan kita akan aman dan tentram. 

Maka, jadilah orang yang cerdas (berakal) dan jangan jadi orang yang ingin bodoh atau memperbodoh sendiri tanpa ada ikhtiar. Akan tetapi, meskipun engkau dikaruniani Allah kecerdasan dan akal yang sempurna, janganlah menjadi orang yang sombong, tetaplah menjadi orang yang berbudi pekerti baik dan mulia.

by : Qibtiyah Mukti

sumber: republika

22 Apr 2013

AL-ZILZAL , Belajarlah dari Ayat ALLAH tentang "Gempa"

by: Radea
Gempa Bumi


Mari sahabatku kita bersiaga penuh dengan teguhkan kembali keyakinan kita, bahwa tidak ada makhluq yang kuasa, hanyalah Allah yang kuasa. Tiada penolong dari makhluq sekaliber apa pun dia, apa itu dari pemimpin dunia hebat yang digjayanya sekelas Fir'aun atau pun gemilang hartanya sekelas Qorun laknatullah alaih.. Semua pasti berakhir dengan kehancuran dan kebinasaan..! Kematiannya penuh ratapan dan itu semua diabadikan jelas, tertulis dalam firman Tuhan..Allah Ta'ala lewat Al-Qur'an..

Saat ini patut kita cermati bahwa frekwensi gempa bumi dimana-mana terus meningkat, tiap jam bahkan tiap menit. Dari berbagai belahan bumi diberitakan anak-anak manusia bergelimpangan dan terkubur oleh dunianya sendiri. Hal ini memberi tanda bahwa Allah tengah memberikan peringatan agar manusia tidak terlena dengan keangkuhannya.

Kenapa bumi GEMPA (berguncang)..? 
Ingatlah Allah SWT telah mengingatkan lewat SURAH AL-ZILZAL “GEMPA”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Surah ini melukiskan aspek permulaan dari akhir zaman. Alquran memberikan gambaran tentang bagaimana penciptaan dimulai, bagaimana ia akan berakhir, dan bagaimana penciptaan berikutnya akan terjadi. Di sini kita diberi sebuah model tentang kapan penciptaan mencapai kesempumaannya dan berhenti, yang menandai permulaan dari siklus berikutnya di mana alam semesta akan runtuh. Model ini dapat kita pahami melalui bahasa yang menarik bagi kejasmaniahan dan humanitas dasar kita.

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا
1. Tatkala bumi berguncang dengan guncangan yang dahsyat,

Di sini kita diberikan suatu gambaran yang gamblang tentang guncangan bumi, tentang gonjang-ganjingnya. Ini akan menjadi akhir dari kerasnya bumi dan kekokohannya yang nyata, seperti kembali ke saat ketika bumi berupa zat cair, sebelum gunung-gunung muncul di atas logam cair dari inti bumi. Proses awal akan membalik.

'Tatkala bumi berguncang' menunjukkan bahwa peristiwa ini akan terjadi. Jika dulu kita dapat membayangkan Lembaran yang memuat keseluruhan rentang waktu penciptaan dalam diri kita, kita akan melihat peristiwa yang termuat di dalamnya dan akan dapat menghentikan jalannya waktu di dalam diri kita. Inilah yang terjadi pada Nabi pada Laylat al-Qadr tatkala Alquran ditumnkan kepadanya dan seluruh pengetahuan dibukakan kepadanya. Beliau ingin sekali membawakan seluruh pesan sekaligus, tapi turun ayat yang mengatakan, 'Jangan tergesa-gesa, semuanya akan terbentang.' Beliau ingin menanamkan pengetahuan bahwa yang kita anggap padat dan kokoh, yakni, semua eksistensi material, adalah bersifat terbatas.

وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا
2. Dan bumi mengeluarkan bebannya,

Atsqal (jamak dari tsiql) berarti 'beban, berat'. Kita menganggap bumi itu padat dan berat, tapi ayat ini memberitahu kita bahwa akan terjadi peristiwa di mana bumi akan mulai pecah berantakan. Kata atsqalaha dapat juga berlaku pada orang yang memikul beban berat. Secara khusus, ayat ini berkenaan dengan akhir penciptaan fisik dan pecahnya dunia. Tubuh manusia juga merupakan sebuah kiasan dunia: beban berat batin kita juga akan dibongkar dan dikeluarkan setelah kematian.

وَقَالَ الْإِنسَانُ مَا لَهَا
3. Dan manusia berkata: 'Apa yang telah terjadi padanya (dunia')?

Dan kemudian manusia, insan, yang karena sifatnya selalu ingin mencari tahu, bertanya-tanya sendiri. Tiba-tiba keadaan terhenti itu diaktifkan dan dibangkitkan kembali, yang menyebabkannya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
4. Pada hari itu bumi akan menyampaikan beritanya,

Segala sesuatu akan diungkapkan sebagaimana adanya. Tidak akan ada lagi persembunyian, tidak ada lagi rahasia dan perbuatan yang tersembunyi dalam diri kita. Wilayah amal akan dihilangkan dan tidak akan ada lagi kemungkinan apa pun untuk kita berpegang teguh pada lapisan-lapisan nafs kita yang sebelumnya dapat menyembunyikan banyak sekali rahasia.

بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا
5. Karena Tuhanmu akan mewahyukan kepadanya.

'Tuhanmu mewahyukan kepada bumi' berarti bahwa kemacetan kosmis ini sudah ditentukan dan bahwa hal itu akan terjadi pada saat yang tepat. Gempa bumi terakhir akan datang atas perintah sang Pemelihara, sang Pencipta. Hal tersebut telah ditentukan sebelumnya, karena segala sesuatu dalam realitas ini memiliki takdirnya sendiri dan semua takdir saling berhubungan, dan mereka dihubungkan oleh Kekuatan Halus yang tak kentara.

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ
6. Pada hari itu manusia akan keluar dalam kelompok-kelompok untuk diperlihatkan segala amal perbuatannya.

Yashduru, dari shadara, yang berarti 'keluar, kedepan, berasal', dan 'membawa kembali'. Shadr berarti 'depan, dada', dan masbdar berarti 'sumber'.

'Amal berarti 'perbuatan', yang menunjukkan penjelmaan lahiriah dari niat-niat seseorang. Namun, saat yang dimaksud dalam ayat ini akan terjadi dalam wilayah amal. Menurut Alquran, dalam alam eksistensi ini di mana persoalan lahir (syariat) mempengaruhi persoalan batin (hakikat), pertama-tama kita memahami padatnya segala hal dan kemudian menyelidiki kehalusan realitas gaib mereka. Oleh karena itu, dalam alam ini yang padat meliputi yang halus.

Dalam pengalaman berikutnya akan terjadi kebalikannya: hal pertama yang akan kita lihat adalah unsur-unsur halus. Kita akan melihat segala niat kita dengan jelas dan siapa kita sesungguhnya. Ini tidak berarti bahwa seorang pematung secara tiba-tiba akan melihat semua patungnya berdiri di hadapan dia. Kita tidak akan melihat pekerjaan kita menurut pengertian itu, tapi yang kita lihat adalah hakikatnya. Nabi berkata, 'Amal hanya sesuai dengan niatnya.' Niat kita akan menjelma di dunia akan datang; kita akan melihat hati kita, yang pada saat sekarang kita takut sekali untuk memeriksanya. Kita akan melihat apa yang telah kita lakukan, apa niat paling dalam kita, dan motivasi sejati untuk semua perbuatan kita. Pada saat itu kita akan berhadap-hadapan dengan kebenaran mengenai apakah kita beramal dalam rangka mengenal Allah, atau sekadar untuk memenuhi tuntutan realitas dan menyenangkan orang lain.

وَمَن يَعمَل مِثقَالَ ذَرَّةِ خَيْرّاً يَرَهُ
7. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat atom, ia akan melihatnya,

Barangsiapa melakukan kebaikan sekalipun seberat atom dan berbuat dengan niat yang murni—fi sabil illah (di jalan Allah), karena Allah—akan melihat semua perbuatan baiknya di hadapan dia.

وَمَن يَعمَل مِثقَالَ ذَرَّةِ شَرّاً يَرَهُ
8. Dan orang yang mengerjakan amal keburukan seberat atom, ia akan melihatnya.

Segala sesuatu akan dibentangkan dengan seutuhnya. Dalam Alquran kita diberitahu bahwa yawm al-Qiyamah (Hari Pengadilan) setara dengan 50.000 tahun kita. Pada hari itu kita akan melihat segala sesuatu seakan-akan dalam gerak lambat. Bayangkan bahwa dalam keadaan marah seseorang memukul seorang anak kecil, dan seseorang lain secara diam-diam merekam kejadian itu. Bayangkan penderitaan yang akan dirasakan orang itu ketika melihat dan mendengar rekamannya ditayangkan lagi. Ini contoh tentang apa yang akan terjadi di kehidupan mendatang.

Logika sederhananya, bukan Tuhan yang murka akan tetapi banyak anak manusia yang tidak mampu jadi khalifah di bumi, jauh dari dzikrullah dan dengan sendirinya bumi pun dengan sifat alaminya mencari keseimbangan. 

Disisi lain, mungkin tidak kita sadari bahwa nilai kebenaran tengah mengalami erosi yang signifikan dan hal ini ditandai dengan masa-masa fitnah, kebodohan dan bercampurnya pemahaman manusia sehingga tidak mengenal lagi halal dan haram.

Padahal Baginda Nabi saw mengingatkan kita bahwa di akhir zaman manusia akan mengalami kejahilan yang akut..
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Akan datang pada manusia suatu saat di mana seseorang tidak peduli dari mana hartanya didapat, apakah dari yang halal atau yang haram." 
(HR Ahmad dan Bukhari)

21 Apr 2013

Taaruf, Mencari Pasangan Hidup Secara Islami


Allah sudah menggariskan jodoh setiap manusia sejak dia lahir ke bumi. Meski demikian, Allah tetap menyuruh manusia berusaha mendapatkan jodoh yang melengkapi hidupnya.

Dalam agama Islam, ada cara yang biasa dipergunakan kaum dewasa untuk mencari pasangan hidup. Yakni dengan metode taaruf, yang artinya perkenalan.

Metode taaruf sebenarnya tak jauh beda dengan masa-masa pedekate alias pendekatan. Masa taaruf, dua orang lawan jenis muslim melakukan penjajakan dengan orang yang sebelumnya belum dia kenal dekat. Selama masa penjajakan itu, juga dua orang yang melakukan taaruf akan dibantu seorang mediator. Ketika salah satunya merasa tidak sreg, maka masa perkenalan itu boleh dihentikan.

"Sebenarnya pilihan saya Taaruf itu salah satunya karena basic keluarga juga. Tapi lebih dari itu, selama 20 tahun (sebelum menikah) saya hidup sangat sadar bahwa kebanyakan orang yang kita kenal luarnya saja dan akan beda jauh ketika di dalam rumah tangga," kata Ira (bukan nama sebenarnya) yang memilih metode taaruf ketika mencari teman hidup. Hal itu disampaikan Ira saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (25/11).

Ira sadar meski taaruf sangat dibenarkan oleh agaman Islam, tapi tetap saja ada kendala yang dihadapi. Apalagi kita tidak mengenal sama sekali seperti apa wajah atau karakter orang tersebut.

"Sebenarnya kacamata orang awam, metode ini sama dengan beli kucing dalam karung. Sebab banyak yang harus diperhatikan, dipertimbangkan, diinvestigasi seperti apa orang yang akan diperkenalkan. Tapi saya serahkan ke Allah saya minta yang terbaik. Toh mengenal di luar tidak menjamin, malah muncul penilaian dengan kecendrungan yang membutakan mata. Misal tidak bisa melihat pasangan kita secara netral," jelas ibu satu anak ini.

Selain karena ingin melihat karakter pasangan lebih netral, alasan lain Ira memilih taaruf karena saat usianya 20 tahun, dia berniat ingin menikah di umur 22 tahun. Dan secara tidak sengaja pula, proses taaruf itu mulai dilakukan di umur 21 tahun.

"Dalam doa saya waktu ummur 20 itu, umur 22 saya siap nikah, dan doa saat itu Alhamdulillah, terkabul," kenangnya.

Ira pun membagi sedikit kisahnya bersama suami saat memilih metode taaruf untuk mencari pasangan hidup. Saat memulai proses itu, kata Ira, satu yang selalu dia camkan di benaknya bahwa dia hanya berusaha dan menyerahkan jodoh hidupnya pada Allah semata.

"Saat umur 21 tahun, saya punya kenalan yang rupanya satu organisasi di SMA dengan saya. Nah saat itu tiba-tiba dia SMS saya yang isinya lebih kurang begini 'Assalamualaikum wr wb Ira, berdasarkan hasil diskusi antara ustad dan guru ngaji saya ada yang perlu saya tanyakan, apakah sedang dalam masa pinangan atau sudah dikhitbah orang lain', nah saat itu saya tidak langsung jawab," cerita Ira.

Mendapatkan pesan demikian, Ira langsung berkonsultasi dengan guru ngajinya apa maksud pertanyaan dalam pesan singkat itu. Tak lama kemudian, si pria itu kembali mengirim pesan dan mengajak ira ber-taaruf.

"Nah karena sebelumnya saya tidak kenal secara personal dengan dia, saya memilih seorang mediator yang kebetulan teman saya sendiri yang sudah menikah. Mediator inilah yang alat komunikasi kita sampai masa khitbah," tambahnya.

"Akhir Januari 2011 kita via mediator saling bertukar curriculum vitae (CV). Mirip kaya CV ngelamar kerja, ada foto, biodata, data keluarga, karakter sifat masing-masing ingin seperti apa kriteria pasangan, dan bagaimana konsep pernikahan yang diinginkan. Setelah mediator memberikan CV kita, lalu kita diberi waktu berpikir ulang sampai waktu yang tidak ditentukan," jelasnya.

Keduanya berhak menolak dan tidak melanjutkan masa perkenalan ini. Saat itu, Ira benar-benar berkonsultasi pada banyak orang soal pria yang mengajaknya taaruf.

"Dan setelah saya konsultasi ke keluarga, teman-teman dia, lalu saya salat istikharah, akhirnya saya memutuskan lanjut ke tahap berikutnya yaitu nazhar," kata Ira.

Nazhar adalah proses saling melihat antara dua orang yang selama ini melakukan ta'aruf. Dalam tahap ini, Ira, mediator dan yang bersangkutan dipertemukan secara fisik dan mendiskusikan apa yang dimuat di CV. Setelah itu, mediator akan bertanya kembali apakah ingin dilanjutkan proses atau tidak. Kalau lanjut, pihak laki-laki langsung ditanyakan kapan orang tua akan mendatangi rumah wanita untuk silaturhami. Waktunya tidak boleh terlalu lama.

"Karena idealnya, taaruf itu 3-6 bulan. Nah kemudian, setelah ada kesepakatan kapan orang tua laki-laki ke rumah, saat itulah tugas si mediator selesai," ungkap wanita lulusan perguruan tinggi negeri ini.

Setelah silaturahmi ditentukanlah tanggal lamaran, kemudian melakukan proses lamaran dan menikah. Ira sendiri menghabiskan waktu lebih kurang 6 bulan sejak proses taaruf dimulai sampai akhirnya dia menikah.

Proses yang singkat memang. Tapi, Ira mengaku sangat yakin dengan pria yang dikenalnya lewat metode taaruf.

"Dengan dia gaya komunikasi kita mirip, dan dari awal gak ada masalah komunikasi dan karakternya lebih sabar. Selain itu, suami juga saat itu mencari partner rumah tangga yang juga bisa jadi partner kerja dan sejauh ini sesuai ekspektasi," ungkapnya.

Kini pernikahan mereka memasuki usia satu tahun lebih. Saat ini keduanya juga sudah dikaruniai seorang bayi mungil berumur empat bulan.

"Dia melengkapi, tidak banyak menuntut dan fleksibel. Alhamdulillah," katanya mengakhir berbincangan dengan suara bahagia.

sumber: merdeka com

BERDO'ALAH DENGAN INI AGAR DAPAT JODOH DAN KETURUNAN YANG BAIK




Artinya: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidupku seorang diri, dan Engkaulah pewaris yang paling baik." (QS. Al-Anbiyai': 89).


Artinya: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sungguh Engkau Maha Pendengar doa." (QS. Ali 'Imron: 38).

Penjelasan:
Doa di atas baik sekali dibaca oleh orang-orang yang belum mempunyai keturunan dan pasangan hidup. Juga baik sekali dibaca oleh setiap muslim agar diberi keturunan yang shalih.
Kedua ayat diatas merupakan doanya Nabi Zakariya a.s. agar diberi keturunan sebagai pelenjut perjuangannya menegakkan agama Allah. Kisah Nabi Zakaria bisa dilihat dalam Al-Our'an Surah Al-Anbiya' ayat, 89-90; Ali-'Imron, 38-41.

17 Apr 2013

INI DIA GOLONGAN MANUSIA YANG JAUH DAN DEKAT DARI RAHMAT ALLAH, SEBAGAIMANA DISEBUTKAN ALLAH SWT DALAM AL-QUR'AN

GOLONGAN MANUSIA YANG JAUH DARI RAHMAT ALLAH

Di dunia ini manusia pada hakekatnya semua manusia bernyawa ini sedang berjalan dan antri untuk ambil tiket dapat ruang kamar di kubur. Kata siapa kita hidup di dunia ini lama? Paling rata-rata hanya 60-70 tahun saja, jadi perjalanan hidup manusia ini tidaklah berlangsung lama. Sebahagian dari apa-apa yang mereka perbuat dalam kehidupannya niscaya itulah suatu pilihan baginya. Ada di antara manusia yang bersuka ria dengan kehidupan dunianya dan sama sekali ia tidak mau berbicara tentang akhirat dan mereka itulah yang jauh dari Rahmat ALLAH karena mereka itu teramat cinta kepada dunia.  Kehendak mereka di dunia amat bertentangan dengan seruan ALLAH Tabaraka wa Ta’ala,oleh karenanya cukupkan atas mereka kesempurnaan di dunia dan tidak ada sedikit pun bagian kenikmatan yang akan mereka dapatkan kelak di akhirat. Itulah mereka yang termasuk pada golongan orang-orang yang merugi.

Firman ALLAH Ta’ala : 

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Al-Kahfi : 103-104.

مَن يَهْدِ اللّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَن يُضْلِلْ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi. Al-A’raaf : 178.

مَّن كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِندَ اللّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَكَانَ اللّهُ سَمِيعاً بَصِيراً

Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. An-Nisaa’:134.

Adapun diantara ciri-ciri manusia yang jauh dari Rahmad ALLAH Tabaraka wa Ta’ala yaitu :

1. Orang-orang yang lalai

Adalah mereka golongan manusia yang jauh dari Rahmad ALLAH, oleh karena didunia ALLAH telah mengunci mati akan hati, pendengaran dan penglihatan mereka daripada kebaikan dan kemuliaan lagi apabila ALLAH memberi atas diri-diri mereka masa untuk bertaubat, niscaya tiadalah..melainkan mereka tetap dengan kesesatannya sehingga menyebabkan mereka lalai dari mengingat ALLAH dan dalam beribadah kepada-Nya sehingga merugilah mereka dengan sebenar-benar kerugian.

Firman ALLAH Ta’ala :

أُولَـئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ لاَ جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الآخِرَةِ هُمُ الْخَاسِرونَ

Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lalai. Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi. An-Nahl : 108-109.

2. Golongan Syaithan (Lupa Pada ALLAH)

Yaitu golongan manusia yang menuruti hawa nafsunnya, sedang mereka berkawankan syaithan dalam kehidupannya. Ketahuilah..bahwasanya syaithan itu mengkhiaskan sesuatu yang buruk itu agar terlihat baik daripadanya, yang menyebabkan mereka lupa kepada ALLAH dan jauh daripada Rahmad-Nya.

Firman ALLAH Ta’ala :

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُوْلَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. Al-Mujaadilah : 019.

3. Berburuk sangka kepada ALLAH

Oleh karena mereka mengira bahwa ALLAH Tabaraka wa Ta’ala telah memberi mereka keburukan dan menjauhkan daripada mereka kebaikan yang mereka kehendaki, dan itulah seburuk-buruk persangkaan kepada ALLAH. Maka ketahuilah..bahwa sesungguhnya ALLAH Tabaraka wa Ta’ala senantiasa memberi kebaikan kepada sekalian manusia bahkan kepada manusia yang tiada menyembah-Nya sekalipun (kafir)..jika kamu memikirkan, namun..sedikit jua di antara kamu yang berterima kasih.

Firman ALLAH Ta’ala :

وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنْ الْخَاسِرِينَ

Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Fushslhilat : 023.

4. Mengada-Adakan Dusta Kepada Allah

Yaitu mereka yang didunia bersusah payah untuk mengkhiaskan kepada manusia, bahwa adalah ia orang yang palingbaik ucapannya dan perbuatannya dan yang mengatakan sesuatu yang baik sedang sesuatu yang baik yang ia sampaikan itu tiadalah pada dirinya, atau seumpama pemimpin yang memiliki kekuasaan yang dengan kekuasaannya ia berbuat dengan sekehendaknya dan tiada berbuat adil kepada ummatnya sedang di hatinya tidak ada ALLAH, dan padahal sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui atas sekalian gerangan yang ia sembunyikan didalam hatinya.

Firman ALLAH Ta’ala :

وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِن تَأْمَنْهُ بِقِنطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُم مَّنْ إِن تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لاَّ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلاَّ مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَآئِماً ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. Ali-Imraan : 075.

فَمَنِ افْتَرَىَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ مِن بَعْدِ ذَلِكَ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim. Ali-Imraan : 094.

5. Aniaya

Yaitu mereka yang tiada berlaku adil terhadap sesama, yang cenderung merugikan orang lain demi keuntungan yang ia akan peroleh untuk dirinya sendiri atau seumpama manusia berbuat kecurangan yang nyata dalam kehidupannya dan manusia yang kerap menganiaya orang lain dan dirinya sendiri walaupun karena kesalahan-kesalahan yang diakibatkan oleh perbuatannya.

Firman ALLAH Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. An-Nisaa’ : 029-030.

6. Mentaati pemimpin yang zhalim

Sesungguhnya..daripada kehidupan duniamu, mestilah engkau menunjuki imam yang terbaik agamanya di antara kamu untuk engkau ikuti dan yang kamu dapat memaintainya kemashlahatan yang banyak bagi kehidupanmu. Namun..sekali-kali janganlah kamu mengikuti pemimpin yang zhalim, yang tiada hendak berlaku baik di antara sesama kamu dan yang menyerui kamu untuk terjun kepada lembah kebinasaan, karena sesungguhnya ia adalah musuhmu, maka hendaklah kamu menasehatinya dan mengembalikannya kepada jalan kebenaran. Namun jika ia masih bersikeras dengan atas apa-apa yang ada padanya, niscaya binasalah kamu sebelum itu..sedang ia adalah orang yang paling buruk disisimu.

Firman ALLAH Ta’ala :

وَلَئِنْ أَطَعْتُم بَشَراً مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذاً لَّخَاسِرُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi. Al-Mu’minuun : 034.

7. Percaya pada kebatilan dan ingkar kepada ALLAH

Padahal ALLAH Tabaraka wa Ta’ala telah menetapkan sesuatu putusan itu atas kamu, bahwa yang sedemikian ini dan sedemikian itu..maka beginilah hukumnya. Namun..sebahagian kamu lebih menyukai untuk mengingkari putusan ALLAH, sedang kamu lebih menyukai segala putusan yang bathil yang ada pada manusia sedang kamu berkata bahwa itulah suatu putusan yang sebaik-baiknya.

Firman ALLAH Ta’ala :

قُلْ كَفَى بِاللَّهِ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ شَهِيداً يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan diantara kamu. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi. Al-Ankabuut’ : 052.

Dan akibat daripada mereka yang senantiasa jauh daripada Rahmad ALLAH, niscaya adalah mereka termasuk padagolongan orang-orang ahli neraka yang telah kehilangan diri dan keluarga mereka pada hari kiamat, oleh karena mereka telah berlaku zhalim sesama mereka sehingga mereka beroleh siksa lagi azab yang kekal dan selama-lamanya.

وَتَرَاهُمْ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا خَاشِعِينَ مِنَ الذُّلِّ يَنظُرُونَ مِن طَرْفٍ خَفِيٍّ وَقَالَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا إِنَّ الظَّالِمِينَ فِي عَذَابٍ مُّقِيمٍ

Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal. Asy – Syuura : 045.

8. Dan lain sebagainya

GOLONGAN MANUSIA YANG DEKAT KEPADA RAHMAT ALLAH

Adalah mereka golongan manusia yang senantiasa meminta kepada ALLAH akan sekalian Rahmat-Nya apabila suatu perkara kebaikan maupun keburukan menghampiri mereka, dan mereka senantiasa tiada berhenti untuk meminta Rahmat daripada ALLAH. Sedang ALLAH Tabaraka wa Ta’ala akan menghapuskan Murka-Nya demi Rahmat-Nya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :

Dari abu hurairah ra. ia berkata ; rasulullah saw bersabda; tatkala Alloh menciptakan makhluk, ia menulis pada suatu kitab,, kitab itu berada di sisiNya di atas “Arasy, bertuliskan ; Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku (Hr Bukhari dan muslim)

dan sesungguhnya Rahmat ALLAH itu meliputi luasnya langit dan bumi beserta sekalian apa-apa yang ada di antara keduanya..

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :


Dari Abu Hurairah ra. ia berkata ; saya mendengar rasulullah saw bersabda; Alloh telah menjadikan rahmat itu seratus bagian. sembilan puluh sembilan ditahan disis- Nya, satu bagian Ia turunkan ke bumi, dari satu bagian itulah semua makhluk saling menyayangi sampai binatang itu mengangkat kakinya karena khawatir menginjak anaknya;

Dalam riwayat lain dikatakan rasulullah saw bersabda; sesungguhnya Allah mempunyai seratu rahmat dan ia menurunkan satu di antaranya itu untuk jin, manusia binatang dan serangga. dengan satu rahmat itulah mereka saling menyayangi dan dengan satu rahmat itulah binatang buas mempunya rasa kasih sayang terhadap anaknya. Adapun rahmat yang sembilan puluh sembilan, Alloh menyimpannya untuk diberikan pada hari kiamat, sebagai rasa sayang terhadap hamba-hambaNya (Hr Bukhari dan muslim)

Adapun ciri-ciri daripada orang-orang yang dekat kepada Rahmat ALLAH itu adalah sebagai berikut :

1. Mengerjakan Amal Ibadah Kepada ALLAH

Yaitu adalah mereka yang senantiasa taat lagi patuh pada perintah ALLAH, senantiasa membaca kitab ALLAH, mengerjakan shalat wajib lima waktu maupun yang sunnah serta yang membayarkan zakat, infaq dan sadaqah yang menyantuni fakir miskin dan lagi karena akan segala kasih sayang sesama mereka.

Firman ALLAH Ta’ala :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Faathir:029-030.

2. Bersyukur kepada ALLAH

Yaitu apabila seorang manusia yang beroleh rezeki dan harta yang banyak, niscaya ia menyadari bahwa sekalian daripada harta yang ia kumpulkan adalah karunia daripada ALLAH semata, dan menyadari bahwa sekalian daripada hartanya bukanlah miliknya sepenuhnya melainkan adalah harta daripada kaum dhuafa lagi yang fakir dan miskin itulah sebahagiannya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda : 

Dari annas ra ia berkata rasulullah saw bersabda ; Sesungguhnya Alloh sangat ridha kepada orang yang apabila makan ia memuji kepada – Nya atau apabila minum ia memuji kepada Nya karena merasa telah mendapatkan rahmat(Hr Muslim)

Firman ALLAH Ta’ala :

وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لِّيَقُولواْ أَهَـؤُلاء مَنَّ اللّهُ عَلَيْهِم مِّن بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?”. Al-An’aam:053.

Sedang daripada perjalanannya guna beroleh rezeki daripada ALLAH, niscaya apabila ia beroleh rezeki yang baik daripada ALLAH adalah ia bersyukur sepenuhnya atas segala karunia lagi Rahmad-Nya. Sedang apabila ia beroleh rezeki yang tiada semestinya baginya, tetaplah ia dengan segala kesyukurannya kepada ALLAH melainkan baginya memohonkan kepada ALLAH agar memberikan rahmad lagi karunia-Nya pada hari yang lain.

Firman ALLAH Ta’ala :

اللّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقَدِرُ وَفَرِحُواْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مَتَاعٌ 

Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).Ar-Ra’d:026. 

Dan senantiasa mensyukuri sekalian keadaan yang ia hadapi, apabila ia beroleh suatu keadaan yang baik dalam perjalanan hidupnya..niscaya amatlah besar rasa syukurnya pada ALLAH, dan apabiila ia beroleh keadaan yang burukmaupun sulit dalam perjalan hidupnya, niscaya adalah ia tetap dalam kesyukurannya kepada ALLAH melainkan hanya baginya memohon kepada ALLAH agar meringankan segala urusan dunianya demi kelancaran urusannya di negeri akhirat kelak.

Firman ALLAH Ta’ala :

Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo`a kepada Allah dengan mengikhlaskan keta`atan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”. Yunus : 022.

Dan ALLAH Tabaraka wa Ta’ala senantiasa menambahkan nikmat-Nya kepada orang yang bersyukur, sedang bagi orang-orang yang ingkar kepada ALLAH dari rasa bersyukur kepada-Nya, niscaya tiadalah diringankan segala siksa dan dosanya melainkan siksa ALLAH-lah bagi mereka baik didunia maupun di negeri akhirat kelak.

Firman ALLAH Ta’ala :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Ibrahim : 007.

3. Berterima kasih Kepada ALLAH

Yaitu mereka yang senantiasa berterima kasih kepada ALLAH, bahwasanya terdapat limpahan nikmat ALLAH dibalik daripada kesusahan mereka. Apabila mereka ditimpa kemelaratan dan kesusahan dalam perkara urusan dunianya, lalu mereka hadapi dengan keikhlasan dan kesabaran dan kemudian ALLAH menghilangkan kemelaratan yang ada pada mereka hingga tiadalah luput atas hati dan lisan mereka untuk berterima kasih kepada ALLAH.

Firman ALLAH Ta’ala :

وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلاَّ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإِنْسَانُ كَفُوراً

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan Kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih. Al-Israa’:067.

إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya, Al-Aadiyaat:006.

4. Cinta kepada ALLAH

Yaitu mereka yang senantiasa berbaik sangka kepada ALLAH, yang patuh lagi taat akan segala perintah-Nya lagi meninggalkan segala apa-apa yang dilarang-Nya. Menjauhkan diri akan sekalian perkara kemaksiatan yang dibenci oleh ALLAH lagi condong dengan sebenar-benar condong kepada syari’at ALLAH dan menerima segala apa-apa yang ALLAH tetapkan ke atas dirinya.

Firman ALLAH Ta’ala :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). Al-Baqarah : 165.

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Al-Hujuraat : 007.

5. Menjalin Silaturrahim

Yaitu mereka yang senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan saudara seiman di antara mereka, karena sesungguhnya seluruh muslim itu adalah bersaudara oleh karena kecintaan mereka terhadap sesama dan menjalin silaturrahim bukan hanya karena dunia yang ada pada mereka melainkan adalah karena akhirat yang terdapat di antara mereka serta merta dengan persaudaraan yang tiada akan terputus baik didunia maupun di negeri akhirat kelak. Yang senantiasa nasehat menasehati dalam kebenaran dan saling tolong menolong apabila dalam kesusahan.

Firman ALLAH Ta’ala :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS.An-Nisaa’ : 001). 

6. Dan lain sebagainya..

Wallahu Ta’ala A’lam bish showab\
Jazzakumullahu khoiron katsiron..

sumber: tausyiah